cerita & skenario
17 September 2008
Serial "Para Pencari Tuhan Jilid 2"
cerita & skenario
25 December 2007
Konsistensi Karakter
photo by wahyu hsCerita bagus saja belum cukup tanpa tokoh-tokoh yang kuat. Merekalah yang akan menghidupkan plot cerita, memercikkan momen-momen berharga dalam setiap adegan, menjadi representasi pembaca/penonton, menjadikan cerita lebih "bernyawa". Tokoh-tokoh yang ditampilkan secara baik akan membuat cerita paling mustahil sekalipun menjadi masuk akal.
Tokoh cerita yang baik haruslah konsisten. Ini semua ada dalam konsep. Jika sang tokoh adalah seorang berkepribadian labil, maka tidak realistis jika ia tampil sebagai tokoh yang memiliki kemauan kuat dan fokus pada tujuan hidupnya. Hal ini akan tercermin pada sikap dan dialognya. Cinderella yang lembut, penurut, dan sensitif, menjadi sangat realistis ketika tidak bisa keluar dari tekanan ibu dan saudara-saudara tirinya. Ia tidak memiliki kekuatan seorang pemberontak. Ia harus diselamatkan oleh seorang pangeran. Bayangkan kalau tiba-tiba Cinderella melawan semua tekanan itu dengan sangat heroik bak seorang Wonder Woman dengan kata-kata pedas. Karakternya akan "rusak" dan malah jadi aneh. Atau, tokoh Abu Nawas yang mendadak mati akal dan kehabisan kata-kata. Kita akan kecewa karena Abu Nawas tidak tampil sebagaimana seharusnya. Dalam kehidupan nyata, memang, tokoh-tokoh seperti Abu Nawas tidak selalu tampil brilian. Namun, dalam kehidupan fiksi, yang notabene merupakan rekayasa sistematis seorang pengarang, tokoh cerita harus konsisten sesuai konsep agar mewakili tipikal tertentu secara utuh dalam sebuah plot cerita. Dengan demikian, cerita akan mengalir ke arah yang benar dengan cara yang baik berkat bantuan tokoh-tokohnya.
09 December 2007
Flash Fiction: "SANG PRESIDEN"
Sopan tapi tegas, cukup untuk membuat sang Presiden menyuruh para pengawalnya keluar. Ada sebuah kepribadian kuat yang tak bisa ditentang dari orang itu. Semacam wibawa dan kharisma aneh, yang membuat semua orang tertunduk patuh. Seandainya saja aku punya kharisma seperti itu, mungkin akan lebih mudah memerintah negeri ini, pikir sang Presiden. Ia benci situasi ini. Ia benci berada dalam posisi terpojok dan harus meminta bantuan. Tidak selayaknya seorang kepala negara membiarkan dirinya lemah tanpa perlindungan.
"Kalau bapak menuruti nasehat saya, bencana ini masih bisa dicegah."
"Saya memang bersalah," jawab sang Presiden dengan suara lirih. Ia sendiri tak percaya akan bisa mengucapkan kalimat pecundang seperti itu. Ia menghela napas tertahan dan menyandar lesu di kursinya. Tenaganya seakan menguap oleh sorot mata berwibawa orang itu yang penuh tuduhan. Serangkaian tuduhan yang tak dapat disangkal karena semua bukti telah terpampang dengan jelas di depan mata. Ia tak bisa membantah dan itulah yang membuat posisinya menjadi lemah seperti sekarang. Seandainya saja ia bisa memutar balik waktu dan memperbaiki semuanya. Tentu saja, itu tidak mungkin. Sudah terlambat. Waktu hanya berputar ke depan, membiarkan kesalahan menjadi penyesalan.
"Kesalahan bapak kali ini berakibat fatal. Bahkan jika seluruh menteri kabinet mau berkorban, tak pernah cukup untuk menutupi ini."
"Ooohh ...." keluh sang Presiden. "Jadi ... harus bagaimana?"
Orang itu menghela napas berat, memandang presidennya dengan prihatin sambil mengarahkan lampu ke mulut sang presiden yang terbuka.
"Gigi bapak harus dicabut. Tidak bisa ditambal lagi." [Fin]
Baca selengkapnya...
07 December 2007
"Menulis" Sebelum Menulis
28 November 2007
Flash Fiction: "DUA ONS"
"Sejak kapan Anda menyadari kebiasaan mengatakan 'dua ons' di akhir setiap kalimat Anda?"
Oleh Wahyu HS
Bonji menunduk, ragu untuk menjawab pertanyaan psikiaternya. Aku hanya akan mempermalukan diriku lagi, pikirnya jengkel. Sekilas, diliriknya sang psikiater yang tetap bicara sambil menutup mulutnya dengan tangan. Bajingan ini mungkin sedang berusaha keras menahan rasa geli menghadapi pasiennya, pikir Bonji sengit. Tapi kemudian ia ingat bahwa ia kesini untuk konsultasi dan ia membayar. Ia tak mau rugi dan harus mengalahkan harga dirinya."Sejak ... sejak dua bulan yang lalu, dok," jawab Bonji lalu menunduk dan meneruskan lirih, "... dua ons. Saya ... saya sedang menimbang gula di warung sebanyak dua ons, lalu tiba-tiba seekor kucing jatuh dari atap menimpa saya. Dua ons. Ehm ... saya kaget dan berteriak, dua ons, dua ons. Sejak itulah ... dua ons."
Sang psikiater mengangguk-angguk tersenyum lembut, seolah ingin mengatakan bahwa kebiasaan itu bukan sesuatu yang memalukan ataupun berbahaya. Bonji tetap saja tak menyukainya.
"Ini memang penyakit langka," kata sang psikiater sembari menulis resep obat penenang ringan. "Bahkan, belum tentu sebuah penyakit. Masih dalam penelitian. Untuk sementara, cobalah Anda bersikap tenang dan mulai belajar untuk lebih banyak diam. Bicara yang perlu-perlu saja."
"Baik, dok. Terima kasih," jawab Bonji. Bibirnya bergetar menahan "dua ons" yang siap meluap. Kata-kata itu menteror heboh di ujung bibirnya bagai serombongan monyet liar.
"Tahan. Tenang. Tarik napas pelan-pelan dan dalam," kata sang psikiater yang kembali mulai menutupi mulutnya dengan tangan. Bonji sebal sekali melihatnya, tapi toh ia menuruti saja perintahnya. Dalam posisi tetap duduk, ia menarik napas dalam-dalam, perlahan, lalu menghembuskannya hati-hati hingga hembusan terakhir. Dadanya terasa mau meledak menahan getaran udara, sementara bibirnya berjuang menekan teror "dua ons" itu.
"Fffhhh ...."
"Bagus. Tuh, bisa kan?"
"Terima kasih, dok. Dua ons."
Sang psikiater menarik laci entah mencari apa, tapi Bonji tahu bedebah ini hanya berusaha menutupi rasa gelinya. Bonji berjanji, kalau sampai keparat ini terlepas tawa, ia akan menonjoknya persis di mulut.
“Tidak apa, latihan saja terus. Kuncinya adalah kesabaran dan telaten.”
Bonji keluar dari ruang praktek psikiater itu dengan membawa selembar resep. Tak yakin, apakah ia akan sembuh atau tidak. Yang jelas, ia lega sudah tidak melihat tampang psikiater itu lagi. Tertawalah sepuasmu dan aku tak akan peduli, sungut Bonji dalam hati.
Sang psikiater tercenung di mejanya dengan kening berkerut. Matanya nanar menatap pintu yang tertutup. Tak berapa lama, asistennya yang cantik masuk dan langsung mengunci pintu. Tersenyum lembut seperti biasanya sambil berjalan menghampiri.
“Orangnya sudah jauh, dok, dan tidak ada siapa-siapa lagi di ruang tunggu. Masih ingin?” Ia berdiri di belakang kursi sang psikiater. Tangannya yang lentik mulai memijit punggungnya.
Sang psikiater mengangguk. Ia menengadah dengan mata terpejam. Ditariknya napas dalam-dalam, seperti yang ia ajarkan kepada pasiennya tadi. Beberapa saat ia menahan napas untuk kemudian, perlahan sekali, menghembuskannya sedikit demi sedikit. Gadis asisten itu lembut tersenyum untuk memberinya semangat.
“Ayo, dokter pasti bisa.”
Sang psikiater menghembuskan desah terakhirnya, “Fffhhh ... empat kilo, empat kilo, empat kilo, empat kilo, empat kilo .... kampret! Lima kilo, lima kilo, lima kilo ....” [Fin]
Baca selengkapnya...



